ALASAN PERSIJA HANYA PAKAI SATU BINTANG DI JERSEYNYA MUSIM 2020

posted in: News & Promo | 0

 

Setelah sukses meraih gelar juara Liga 1 2018, polemik pemakaian bintang di lambang jersey Persija Jakarta mencuat di media sosial.Tak sedikit The Jak Mania yang meminta agar manajemen Persija Jakarta tetap hanya menggunakan satu bintang di atas logo.Hal itu yang membuat Ketua Umum Pengurus Pusat The Jak Mania, Ferry Indrasjarief, langsung berbicara kepada manajemen Persija Jakarta terkait bertambah atau tidaknya bintang di logo Macan KemayoraMenurut Bung Ferry, polemik satu atau dua bintang itu tidak perlu dipermasalahkan.Sebab, sampai saat ini dalam regulasi kompetisi sepak bola Indonesia tidak ada peraturan penambahan bintang bila berhasil meraih gelar juara.

Tak bisa dipungkiri, Persija Jakarta menjadi klub yang paling banyak meraih gelar juara di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.Walau berhasil dua kali meraih gelar Liga Indonesia, Persija nyatanya tetap memakai satu bintang di atas lambang klub. Persija Jakarta berhasil menjadi kampiun Liga 1 2018. Pada laga terakhir, Tim Macan Kemayoran menundukkan Mitra Kukar dengan skor 2-1.Raihan ini membuat mereka tak terkejar oleh PSM Makassar yang harus rela finis sebagai runner up.

Walau berhasil dua kali meraih gelar Liga Indonesia, Persija nyatanya tetap memakai satu bintang di atas lambang klub. Persija Jakarta berhasil menjadi kampiun Liga 1 2018. Pada laga terakhir, Tim Macan Kemayoran menundukkan Mitra Kukar dengan skor 2-1.Raihan ini membuat mereka tak terkejar oleh PSM Makassar yang harus rela finis sebagai runner up.

Terkait Bintang di Jersey Tim Liga 1 Indonesia

Keputusan Official Persija untuk tidak menambahkan bintang di Jersey menjadi perbincangan di pecinta Sepakbola Indonesia. Persija Jakarta memutuskan tidak menambahkan Bintang di Jersey mereka karena Status Juara Liga 1 merupakan gelar ke 11 mereka dan bintang yang dibubuhi di Jersey Persija 17 tahun lalu saat Juara musim 2001 itu menurut mereka adalah gelar Juara ke 10 mereka.Hal ini tentu berbeda dengan club-club liga 1 lainnya seperti Persipura Jayapura (4 Bintang), Persib (2 Bintang), Sriwijaya FC (2 Bintang), Semen Padang (1 Bintang) dan club-club lainnya yang pernah menjuarai Liga Tertinggi di Indonesia.

 

Sebelum berdebat panjang lebar ada baiknya kita mengetahui sejarah dan sistem liga Indonesia. Status Juara Liga 1 tahun 2018 bagi Persija memang merupakan gelar ke 11 mereka. Gelar pertama mereka yaitu di masa penjajahan tahun 1931 era liga Perserikatan saat itu Persija masih bernama VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra), Pada selang tahun 1931-1950 Era Perserikatan Persija berhasil memperoleh 4 kali gelar Juara, ini masih kalah banyak dengan VVB Solo yang memperoleh 7 kali gelar Juara Liga Perserikatan. Kompetisi sebelum kemerdekaan lebih banyak dikuasai oleh persaingan kota Solo dan Jakarta. Keduanya merupakan dua tim besar yang selalu berseteru di dalam lapangan. Keduanya juga menjadi tim yang rutin menggelar kompetisi-kompetisi internal di daerahnya. Tak heran banyak pemain yang nantinya memperkuat tim nasional Indonesia angkatan pertama tahun 1950, seperti Sidi dan Darmadi dari Solo lalu Abidin dan Soemo dari Jakarta.

 

Keputusan Official Persija untuk tidak menambahkan bintang di Jersey menjadi perbincangan di pecinta Sepakbola Indonesia. Persija Jakarta memutuskan tidak menambahkan Bintang di Jersey mereka karena Status Juara Liga 1 merupakan gelar ke 11 mereka dan bintang yang dibubuhi di Jersey Persija 17 tahun lalu saat Juara musim 2001 itu menurut mereka adalah gelar Juara ke 10 mereka.

 

Hal ini tentu berbeda dengan club-club liga 1 lainnya seperti Persipura Jayapura (4 Bintang), Persib (2 Bintang), Sriwijaya FC (2 Bintang), Semen Padang (1 Bintang) dan club-club lainnya yang pernah menjuarai Liga Tertinggi di Indonesia.

 

Sebelum berdebat panjang lebar ada baiknya kita mengetahui sejarah dan sistem liga Indonesia. Status Juara Liga 1 tahun 2018 bagi Persija memang merupakan gelar ke 11 mereka. Gelar pertama mereka yaitu di masa penjajahan tahun 1931 era liga Perserikatan saat itu Persija masih bernama VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra), Pada selang tahun 1931-1950 Era Perserikatan Persija berhasil memperoleh 4 kali gelar Juara, ini masih kalah banyak dengan VVB Solo yang memperoleh 7 kali gelar Juara Liga Perserikatan.

 

Kompetisi sebelum kemerdekaan lebih banyak dikuasai oleh persaingan kota Solo dan Jakarta. Keduanya merupakan dua tim besar yang selalu berseteru di dalam lapangan. Keduanya juga menjadi tim yang rutin menggelar kompetisi-kompetisi internal di daerahnya. Tak heran banyak pemain yang nantinya memperkuat tim nasional Indonesia angkatan pertama tahun 1950, seperti Sidi dan Darmadi dari Solo lalu Abidin dan Soemo dari Jakarta.Setelah era kemerdekaan, persaingan sepak bola Indonesia mulai merata. Tak hanya persaingan Jakarta dan Solo saja, tapi Surabaya, Bandung, Medan dan bahkan Makassar juga mulai menggeliat.

Era keemasan sepakbola Indonesia yaitu di tahun 1951 hingga 1979 Persija 5 kali meraih gelar sehingga total 9 gelar Juara. Juara Juara ke-9 diraih Persija pada musin tahun 1978 dan 1979 yaitu musim akhir liga Amatir Perserikatan. Kemudian dimulailah kompetisi semi-Profesional Galatama yang berlangsung bersamaan dengan Liga Perserikatan (Divisi Utama PSSI), Sampai tahun 1979 Kejuaraan Nasional Perserikatan merupakan satu-satunya kompetisi tingkat nasional di Indonesia, Kemudian Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) menyelenggarakan kompetisi sepak bola semi-profesional, diberi nama Liga Sepak Bola Utama disingkat menjadi Galatama. Galatama merupakan salah satu pioner kompetisi semiprofesional dan profesional di Asia. Untuk diketahui sejak 1967 hingga 1994 Jakarta selalu menjadi tempat berlangsungnya final kompetisi sepakbola. Pada tahun 1980-1994 yaitu era Divisi Utama Persija tidak memperoleh gelar juara. Persib Bandung menjadi yang terbaik di penghujing gelaran Divisi Utama setelah mengkandaskan PSM Makassar di Jakarta Tahun 1994. Sedangkan Galatama didominasi oleh Pelita Jaya.

 

Sebelum 1994, terdapat dua sistem kompetisi yang berjalan bersamaan, keduanya diselenggarakan oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), yaitu Perserikatan (amatir) dan Galatama (semi profesional).

 

Sejak 1994, kedua kompetisi tersebut digabungkan menjadi Liga Indonesia. Pada periode 1994-2007, Divisi Utama Liga Indonesia merupakan kompetisi tingkat teratas, yang kemudian turun kasta setelah Liga Super Indonesia dibentuk pada 2008. Sejak Dimulainya Era Liga Profesional Indonesia tahun 2008 Persipura Jayapura mendominasi dengan mengoleksi Gelar Juara sebanyak Tiga Kali, ditambah Satu gelar Juara Divisi Utama Tahun 2005, Persipura mengoleksi 4 Bintang di Jersey Mereka hingga saat ini (Juara Torabica Soccer Championship tidak termasuk).

 

Persib Bandung menjadi yang terbaik di gelaran Liga Indonesia Kasta Tertinggi Pertama, saat itu Peri Sandria dari Bandung Raya Keluar sebagai pencetak gol terbanyak. Juara tahun 1995 inilah yang merupakan bintang pertama di dada milik Persib Bandung. Semenjak dimulainya Format liga Indonesia selalu berubah-ubah. Persija kemudian memperoleh gelar Juara tahun 2001 setelah mengkandaskan PSM Makassar. Banyak orang berpikir bahkan mungkin fans Persija sendiri bahwa 1 bintang di Jersey Persija adalah bintang Juara di tahun 2001. Namun menurut Persija bintang tersebut adalah 10 gelar Juara yang telah di koleksinya.

 

FIFA memberi kebebasan terkait logo Bintang di Jersey sebagai penghargaan terhadap club yg juara seperti halnya di liga italia tanda bintang merupakan tanda 10 kali gelar scudeto sama seperti di liga inggris, beda di turki bintang menandakan 5 kali gelar juara, sedangkan liga di amerika sempat memakai bintang setiap kali Juara namun diubah menjadi bintang besar menandakan 10 kali Juara diikuit bintang-bintang kecil. Persija boleh saja mengklaim 10 kali gelar Juara, itu sah-sah saja, namun perlu ada kesepakatan terkait penggunaan bintang di Jersey tim-tim liga satu sehingga tidak menimbulkan polemik dan klaim prestasi.

Sebagai juara Shopee Liga 1 2019, Bali United telah memulai langkah mereka di babak awal Liga Champions Asia 2020. Wakil Indonesia ini berhasil menuntaskan satu rintangan di Singapura.

 

Dengan jersey yang tetap sama berwarna merah, Stefano Lilipaly dan kawan-kawan bersusah payah mengalahkan Tampines Rovers selama 120 menit. Namun tanpa banyak disadari, ada yang berbeda dari baju tempur Bali United. Ada bintang di atas logo yang menambah sakral seragam merah-putih-hitam Serdadu Tridatu.Mengutip harian Radar Bali, manajemen Bali United memang sengaja menambahkan satu bintang di atas logo. Bukan hanya di match-worn atau jersey replika saja, tapi logo baru tersebut akan ada di setiap keperluan komersial Serdadu Tridatu.

 

Menurut CEO Bali United, Yabes Tanuri, satu bintang emas adalah bukti bahwa klub asal Pulau Dewata ini pernah menjadi juara.

 

“Ini sebagai bukti bahwa kami pernah menjadi juara satu kali di Indonesia,” katanya pada Radar Bali.

 

Lebih lanjut Yabes Tanuri menambahkan, jika klubnya kembali juara maka bintang pasti akan ditambahkan.Apa yang dilakukan Bali United berbeda dengan yang dilakukan Persija Jakarta. Meski 2018 lalu Macan Kemayoran berhasil meraih juara, namun satu bintang di dada mereka tidak ditambahkan. Sampai sekarang jumlah bintangnya tetap satu di atas logo Monas.

 

Abidin-Side, komunitas pengumpul arsip sejarah sepak bola Jakarta, menjelaskan dalam zine mereka, bintang milik Persija adalah penanda bahwa klub kebanggaan Jakmania ini sudah meraih gelar juara sebanyak 10 kali sejak era Perserikatan.

 

Tradisi tersebut diadopsi dari Italia. Hakikatnya, satu bintang adalah penghargaan tertinggi untuk suatu klub yang telah mengoleksi 10 gelar liga. Artinya, Persija baru akan menambah satu bintang lainnya setelah berhasil meraih gelar ke-20.

 

Beda lagi untuk Bambang Pamungkas. Bagi legenda sepak bola Asia Tenggara ini, logo Monas di dada yang dilengkapi satu bintang emas adalah perekam panjangnya sejarah dan prestasi Persija.Oleh karena itu Bepe menyebut dalam bukunya, BEPE20 PRIDE, meski pernah ada yang menduplikasi Persija, dan mengambil logo lengkap dengan bintangnya, mereka tidak akan dapat membohongi Jakmania yang selalu mengerti Persija Jakarta yang sebenarnya, lengkap dengan rekaman sejarah dan prestasinya.

 

“Akan menjadi hal yang aneh dan menjengkelkan ketika saat ini ada tim lain yang menggunakan nama kami, warna ciri khas kami, dan juga lambang kebesaran kami lengkap dengan satu bintang di atasnya. Mereka mungkin dapat saja membohongi publik dengan segala tipu muslihat dan pemutarbalikan fakta, tetapi mereka tidak akan pernah dapat membohongi pendukung setia kami The Jakmania, yang akan selalu mengerti mana Persija Jakarta yang asli,” tulis Bepe di halaman 16.

 

Ini tentu berbeda dengan kebanyakan tim Indonesia. Biasanya tim akan menambahkan bintang sesuai jumlah gelar juara yang diraih. Selain Bali United, contoh lain ada Persipura, dan Persib. Setiap meraih gelar, bintang langsung ditambah di musim berikutnya.

 

Tidak ada yang salah atau benar terkait hal ini. Menambah bintang setelah 10 kali juara, atau menambahnya setiap kali juara, manapun boleh dilakukan. Semua kembali pada tradisi masing-masing, dan sejauh inim tidak ada aturan pasti untuk itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *